Didampingi guru biologi Kaspia, mereka menyulap ruang lab sekolah jadi “dapur eksperimen” sepulang jam belajar. Alat seadanya: blender, oven pengering, cetakan dari loyang kue. Pati singkong dipakai sebagai pengikat alami.
“Gagalnya 11 kali,” Namira tertawa. “Kadang terlalu rapuh, kadang malah jamuran. Pernah satu lab bau fermentasi, kami disuruh bersih-bersih sama Bu Kaspia.”
Kaspia mengenang ketekunan keduanya. “Mereka pulang paling malam. Catat data tiap hari, ukur pertumbuhan bibit pala, hitung intensitas serangan hama. Keterbatasan alat tidak bikin mereka berhenti.”
Tembus Seleksi, Bicara di Depan Juri Internasional
Naskah riset mereka lolos kurasi nasional, lalu terbang ke Terengganu. Di UMT, 16–20 April 2026, Wibi dan Namira mempresentasikan temuan di depan juri dari Malaysia, Jepang, dan Australia. Bahasa Inggris dicicil belajar 3 bulan. “Gemeter, tapi juri malah tertarik karena bahan bakunya murah dan gampang ditemui di negara tropis,” ujar Wibi.
Hasilnya: biomulsa kulit pisang terbukti meningkatkan tinggi tanaman pala 27% dalam 8 minggu, menekan serangan hama penggerek batang hingga 40%, dan terurai sempurna dalam 3 bulan tanpa residu mikroplastik. Dewan juri menilai inovasi ini paling relevan dengan tema Sustainable Blue & Green Future.











Komentar