oleh

PELUIT YANG MENGIRIS HARAPAN DI GELORA BANDUNG LAUTAN API

Pertandingan antara Persib Bandung melawan Malut United dalam lanjutan BRI Liga 1 2025/2026 seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi kualitas wasit asing.

Kedatangan Yudai Yamamoto, wasit asal Jepang yang memiliki lisensi FIFA, memikul ekspektasi tinggi untuk menghadirkan keadilan yang presisi.

Namun, ketika menyaksikan pertandingan Malut United dan Persib Bandung. Laga tersebut, justru menjadi potret nyata bagaimana otoritas di lapangan hijau bisa terasa miring dan mencekik perjuangan Sang Laskar.

Baca Juga  17 Prestasi dan Jejak Kinerja yang Terbaca

Pertama, Inkonsistensi Standar Pelanggaran.

Ketidakadilan yang paling kasat mata terletak pada “double standard” atau standar ganda dalam penegakan aturan.

Dalam banyak momen, benturan fisik yang melibatkan pemain Persib sering kali dianggap sebagai bagian dari permainan (play on), sementara kontak serupa yang dilakukan pemain Malut United dengan cepat membuahkan tiupan peluit.

Inkonsistensi ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah psikologis. Ketika wasit memberikan perlindungan berlebih pada satu tim dan membiarkan tim lain terus ditekan oleh keputusan yang merugikan, moral pemain akan runtuh.

Baca Juga  Diplomasi Spiritual Untuk Kemaslahatan Seluruh Umat Manusia di Bumi

Malut United yang datang dengan semangat “Kie Raha” seolah dipaksa melawan dua lawan sekaligus: kesebelasan Persib dan kebijakan peluit Yamamoto.

Kedua, Pengabaian Insiden Krusial di Area Penalti.

Salah satu titik balik yang memicu amarah adalah kegagalan Yamamoto dalam melihat atau merespons insiden di dalam kotak penalti Persib.

Ada beberapa momen di mana pemain Malut United dijatuhkan atau terjadinya indikasi handball yang luput dari hukuman.

Baca Juga  Obituary: KESUNYIAN DI MENARA GADING

Meski teknologi VAR (Video Assistant Referee) seharusnya menjadi benteng terakhir kebenaran, otoritas utama tetap berada di tangan wasit tengah.

Sikap Yamamoto yang terkesan “tutup mata” terhadap protes pemain Malut United menunjukkan kegagalan dalam menjaga netralitas di tengah atmosfer Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang intimidatif.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *