Kegagalan untuk membuktikan kesalahan Panji menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada apa yang ia katakan, melainkan pada keberanian ia mengatakannya. Kritik Panji dianggap berbahaya karena membuka tabir yang selama ini ditutup rapat.
Dalam demokrasi yang sehat, figur seperti Panji justru dibutuhkan. Ia berperan sebagai pengganggu kenyamanan palsu, memaksa publik untuk berpikir, bersikap, dan tidak bersembunyi di balik apatisme. Kritik yang disampaikan Panji, meski membuat swbagian orang tidak nyaman, telah menjadi bagian dari mekanisme koreksi sosial dan politik.
Penolakan terhadap Panji dengan mengalihkan isu ke soal etika dan cara bicara pada akhirnya justru memperlihatkan ketakutan terhadap transparansi. Ketika substansi dikalahkan oleh sensitivitas semu, maka demokrasi sedang sekarat.
Fenomena Panji bukan sekadar tentang seorang komika yang kontroversial. Ia adalah cermin bagaimana kritik diperlakukan di negeri ini. Ketika kebenaran dianggap terlalu kasar untuk diucapkan, dan kejujuran dinilai tidak sopan, maka yang sesungguhnya terancam bukanlah etika, melainkan demokrasi itu sendiri.
Panji, disadari atau tidak, telah menjalankan peran penting yaitu merawat demokrasi dengan cara menggugat para perusak negeri.
Surakarta, 18 Januari 2026








Komentar