Smith Alhadar : Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Presiden AS Donald Trump masih mengancam Iran dan Greenland. Di tengah tingginya ketegangan geopolitik global – setelah AS menyerang Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro, serta bersitegang dengan Rusia, Cina, Brazil, dan Afrika Selatan — pada 10 Januari, BRICS+ (Brazil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan, Iran, Mesir,Etiopia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Indonesia) melakukan latihan angkatan laut di perairan Cape Town, Afrika Selatan, selama satu pekan. Latihan berjuluk “Will of Peace 2026” bertujuan mengamankan aktivitas ekonomi maritim di Samudera Hindia dan Atlantik. Indonesia, Brazil, dan Etiopia hanya mengirim pengamat.
Trump bereaksi dengan mengatakan tujuan BRICS+ ialah menentang kebijakan-kebijakan AS. Tapi menurut Afrika Selatan, “Will of Peace 2026” bukan opsi, tapi esensial. Toh, Pretoria juga diancam Trump karena berhubungan dekat dengan Rusia dan mengadukan Israel ke Mahkamah Internasional (IJC) dengan tuduhan genosida di Gaza. Sementara Saudi dan UEA melihat serangan AS dan Israel ke Iran berpotensi memporakporandakan Teluk, produsen utama energi dunia. Karena ketakutan ini juga, keduanya bersama Oman dan Qatar melobi Gedung Putih untuk deeskalasi. Iran bukan Venezuela yang bisa diremehkan.
Ancaman Trump-Netanyahu
Venezuela, negara dengan reservasi minyak terbesar di dunia, adalah sahabat Rusia, Cina, dan Iran. Fakta inilah yang dijadikan alasan Trump menjustifikasi pengendaliannya atas Venezuela berbasis Monroe Doctrine. Doktrin ini dicetuskan Presiden AS Ke-5 James Monroe yang mengamanatkan pengamanan Amerika Latin dari pengaruh negara luar kawasan dan menjadikannya lingkungan pengaruh AS. Venezuela memiliki perjanjian kerja sama pertahanan dengan Rusia. Padahal, AS melihatnya sebagai pos terdepannya.
Cina telah berinvestasi senlai 4,6 milar dolar AS, memiliki piutang sebesar 14-16 miliar dolar AS, dan importir terbesar minyak Venezuela. Sementara Iran membangun pabrik drone di sana. Serangan Trump yang bertujuan mengontrol penuh negara itu menimbulkan kemarahan mereka. Toh, aksi itu melanggar hukum internasional dan kedaulatan Venezuela. Reputasi Rusia sebagai pengaman Venezuela juga jatuh karena tak mampu membela sekutunya itu. Merespns kecaman internasional atas perilaku kurang ajar AS ini, Trump menegaskan kewenangannya sebagai panglima tertinggi militer hanya dibatasi oleh moralitasnya sendiri, bukan hukum, perjanjian, atau norma internasional.
Sebelumnya, Trump memberi bantuan alutsista canggih ke Taiwan senilai 11.1 miliar dolar AS guna mencegah invasi Cina ke Taiwan, produsen semikonduktor terbesar dan tercanggih di dunia. Setelah Venezuela, Trump bertekad merampas Greenland bila Denmark menolak untuk dibeli. Kepada sekutu penting AS di Eropa, seperti Perancis, Inggris, dan Jerman, Trump mengancam akan memberlakukan tarif 10 persen dan bertambah menjadi 25 persen pada Juni bila tak patuh pada kemauannya. Hal ini akan mendestabilisasi Eropa, bahkan dunia.











Komentar