Dalam manajemen konflik, ini disebut sebagai konflik tujuan: aktor-aktor yang terlibat memiliki tujuan berbeda, tetapi pemerintah memaksakan seolah-olah semuanya menuju arah yang sama. Pemerintah mengklaim proyek ini untuk kesejahteraan rakyat, namun industri menggunakannya untuk kepentingan logistik. Masyarakat lokal membutuhkan perlindungan ruang hidup, tetapi justru kehilangan hutan, tanah, dan sumber airnya. Ketika tujuan tidak diharmonisasikan, konflik tidak pernah benar-benar bisa dihindari.
Kedua, muncul konflik pengetahuan dan informasi. Banyak warga desa yang tidak tahu menahu tentang trase jalan yang akan dibangun bahkan setelah alat berat memasuki wilayah mereka. Minimnya konsultasi publik menunjukkan adanya asimetri informasi yang besar. Dalam teori konflik, ketidakseimbangan informasi adalah pemicu utama rasa tidak percaya. Masyarakat merasa diperlakukan seolah tidak pantas diberi penjelasan tentang proyek yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka. Ketika kepercayaan sudah runtuh, konflik sangat mudah naik ke level eskalasi.
Ketiga, konflik struktural terlihat jelas dari cara proyek ini dijalankan. Struktur kebijakan yang membingungkan, status hukum yang tidak transparan, serta dana bagi hasil yang belum dibayarkan menciptakan ketegangan antara legislatif, masyarakat, dan pemerintah daerah. Bahkan DPRD mengkritik proyek ini karena dianggap tidak transparan dan tidak memiliki dasar hukum jelas. Dalam manajemen konflik, situasi seperti ini disebut sebagai structural violence: kekerasan sistemik yang tidak terlihat, tetapi muncul melalui kebijakan yang mengabaikan hak kelompok tertentu.
Keempat, proyek ini memunculkan konflik identitas dan ruang hidup, khususnya bagi masyarakat adat. Bagi kelompok adat seperti O’Hongana Manyawa, hutan bukan hanya sumber ekonomi, tetapi inti dari identitas, sejarah, dan kosmologi mereka. Ketika proyek pembangunan menembus hutan, identitas tersebut ikut terancam. Dalam konflik berbasis identitas, penyelesaiannya lebih rumit karena yang dipertaruhkan bukan hanya materi, tetapi eksistensi. Jalan yang membelah hutan bisa menjadi luka yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan.








Komentar