“Ini adalah bentuk penguatan kepercayaan publik. Ketika negara hadir bersama adat, maka masyarakat merasa lebih dekat dan terlibat dalam proses pembangunan,” jelasnya.
Lebih jauh, Dr. Syahrir menilai perayaan HAJAT 775 juga berfungsi sebagai gerakan kultural yang memperkuat identitas kolektif masyarakat Ternate. Nilai-nilai lokal seperti marimoi (persatuan), adat se atorang (hidup dalam harmoni), serta keteladanan Sultan Baabullah dihidupkan kembali sebagai perekat sosial di tengah arus modernisasi.
“Ternate memberi contoh bahwa modernitas tidak harus memutus tradisi. Kota bisa maju tanpa kehilangan jati diri budayanya,” tegasnya.














Komentar