Strategi ini bukan tanpa arah. Pemerintah Kota Ternate telah menyusun roadmap jangka panjang untuk membangun ekosistem Kota Rempah yang berkelanjutan. Sekretaris Daerah Kota Ternate, Dr. H. Rizal Marsaoly, menjelaskan bahwa festival ini merupakan hasil kurasi dari berbagai inisiatif komunitas lokal yang telah diinkubasi sejak 2024. “Kami ingin memastikan rempah menjadi bahan baku utama dalam berbagai sektor, mulai dari kuliner, kosmetik, pengobatan, hingga industri rumah tangga,” ujarnya.
Tiga event utama sepanjang 2025 menjadi pilar penguatan city branding Kota Rempah: “Pesta di Selatan” di Ternate Selatan dengan inovasi papeda instan, “Pesta Gastronomi” di Ternate Tengah yang menampilkan racikan kuliner rempah, dan “Glowing Padaka” di Ternate Utara yang mengangkat rempah dalam produk kecantikan dan kesehatan. Semua ini melibatkan petani, sejarawan, komunitas kreatif, dan pelaku UMKM dalam kolaborasi lintas sektor yang solid.
Lebih jauh, Wali Kota Tauhid mengungkapkan bahwa Ternate tengah bersiap menjadi Kota Gastronomi, dengan dukungan agenda nasional seperti Rapat Kerja Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang akan digelar di Ternate pada 2026. “Kita ingin Ternate tumbuh dengan identitasnya sendiri. Meski tidak memiliki tambang nikel atau emas, Ternate memiliki keunggulan rempah dan budaya yang tidak dimiliki daerah lain di Maluku Utara,” ungkapnya.
Tak hanya itu, rencana penerbitan buku oleh Lemhanas berjudul *Mendaratkan Asta Cita di Kota Rempah* pada awal 2026 menjadi pengakuan intelektual atas keunikan dan daya saing Ternate sebagai kota berbasis warisan budaya.







Komentar