oleh

COLLAPSE

​Melihat kehancuran massif di tiga provinsi – Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara – saya teringat pada buku “Collapse” karya Jared Diamond, Profesor Geografi dan Ilmu Kesehatan Lingkungan di University of California, Amerika Serikat. Ia menulis, ratusan peradaban telah bangkit dan runtuh sepanjang sejarah manusia. Dari zaman kuno hingga masa kini.

​Lima faktor bisa mempengaruhi kelestarian atau keruntuhan peradaban. Di antaranya, kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan tanggapan masyarakat terhadap masalah lingkungan. Collapse mengajak kita meninjau patung-patung batu raksasa Pulau Paskah di Samudera Pasifik yang tumbang, reruntuhan pemukiman Viking di Amerika Utara dan Maya di Amerika Tengah.
​Di Rwanda krisis tanah berujung pembataian antar-suku di sana dan bom waktu masalah lingkungan di Cina dan Australia. Namun, ada pula contoh sukses seperti Jepang zaman Tokugawa yang menjaga negerinta tetap hijau dan Presiden Republik Dominika yang melestarikan lingkungan dengan tangan besi. Collapse menunjuk arti penting aspek lingkungan bagi kelangsungan hidup kita sekarang.

Pelajaran dari keruntuhan maupun keberhasilan berbagai Masyarakat, serta apa yang telah dan bisa dilakukan perorang, badan usaha, dan negara untuk menemukan cara mencegah peradaban ambruk karena dunia tak kuat menanggungnya. Sudah lama dicurigai bahwa banyak keruntuhan setidaknya sebagian dipicu oleh masalah ekologis: manusia menghancurkan sumber daya lingkungan yang diandalkan Masyarakat.
​Kecurigaan mengenai bunuh diri ekologis (ecocide) ini telah dikonfirmasi telah ditemukan para ahli arkeologi, klimatologi, sejarawan, pakar paleontologi dan palinologi (ahli serbu sari) dalam beberapa dasawarsa terakhir. Proses-proses perusakan lingkungan dibagi kedalam delapan kategori, yang kadarnya relatif berbeda dari satu kasus ke kasus lain.
​Penggundulan hutan dan penghancuran habitat, masalah tanah (erosi, penggaraman, dan hilangnya kesuburan tanah), masalah pengelolaan air, perburuan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, efek spesies yang didatangkan terhadap spesies asli, pertumbuhan populasi manusia, dan peningkatan dampak per kapita manusia.

Resiko kehancuran semacam itu kini menjadi sumber kekhawatiran yang kian meningkat: bahkan keruntuhan telah mewujud di Somalia, Rwanda, dan beberap negara Dunia Ketiga. Banyak orang khawatir bahwa ekosida ini telah mengalahkan perang nuklir dan penyakit sebagai ancaman peradaban global. Masalah lingkungan yang kita hadapi sekarang mencakup kedelapan isu di atas.
​Di Indonesia masa kini, dengan menyorot banjir bandang yang memilukan di Sumatera, kehancuran lebih disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak bertanggung jawab, pelepasan hutan jutaan hektar kepada para oligarki untuk dibinasakan, hampir 2.000 izin berbagai tambang yang merusak lingkungan dikeluarkan pemerintah untuk pejabat, oligarki, dan koruptor.

Baca Juga  Spinando Casino: Wie Sie Ihre Spielzeit effektiv verwalten können

​Beririsan dengan tema buku “Collapse”, saya juga ingin mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 atau satu tahun sebelum pemerintahan Prabowo berakhir pada 2029. Hilangnya Indonesia pada tahun itu bukan prediksi Prabowo, melainkan hasil interpretasinya atas “Ghost Fleet”, buku saintific fiction yang ditulis P.W. Singer & August Cole, ahli strategi dan intelijen AS.
​Ghost Fleet juga saya baca. Buku ini menarasikan perang Cina melawan AS. Kedua penulis tidak menyebut Indonesia sudah tidak ada pada 2030. Hanya memang Singer dan Cole tidak menyebut Indonesia sudah bubar saat dua kekuatan raksasa itu berperang di Indo-Pasifik. Mungkin dalam pandangan seorang jenderal seperti Prabowo, andaikan Indonesia masih ada pada tahun itu, mustahil kedua penulis tidak menyebut nama negara kita.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *