Menjabarkan lebih lanjut pernyataan Prabowo bahwa Indonesia akan bubar pada 2030, Ferry Juliantono memberikan beberapa contoh. “Sebuah negara bisa secara de facto tidak ada. Kayak Yunani. Negaranya tidak bubar, tapi bangkrut. Yugoslavia dan Uni Soviet, karena tidak ada keadilan, bubar.” Karena pernyataan Prabowo dan dijabarkan Juliantono menjelang pilpres, maka pihak lawan, media, akademisi, pengamat menertawakan mereka.Dan kebijakan Presiden Jokowi yang ugal-ugalan dijustifikasi. Jokowi pun mengeluarkan UU Minerba tanpa syarat Amdal untuk melayani oligarki yang kini membawa bencana di negeri ini. Anehnya, Prabowo justru merekrut Zulkifli Hasan sebagai Menteri Koordinator Biadang Pangan. Padahal, di masa pemerintahan Presiden SBY, ZH sebagai Menteri Pertanian merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas pelepasan 1,4 juta hektar hutan kepada pengusaha.
Lebih ironis lagi, menurut Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), jaringan LSM yang berfokus pada isu-isu keadilan sosial, HAM, lingkungan, dan masyarakat adat terkait industri pertambangan dan migas Indonesia, Prabowo memiliki jaringan usaha pertanian, perhutanan, dan tambang. Perusahaan-perusahaan Prabowo kebanyakan beroperasi di Kalimantan. Tapi PT Tusam Hutani Lestari miliknya adalah Perusahaan komoditas pohon pinus dengan 340 ribu hektare di Aceh Tengah, Bireuen, Bener Meriah, dan Aceh Utara.
Ketika banjir bandang sedang melanda Sumatera, Prabowo tidak mempermasalahkan perombakan hutan untuk tanaman sawit. Sawit juga tanaman yang menangkap karbon. Dus, tidak ada masalah. Yang kurang difahami, ekosistem hutan memiliki aneka ragam tumbuhan, terutama pohon-pohon besar, yang berfungsi sebagai spons penyerap air hujan, yang tak dapat digantikan sawit. Sawit bersama batubara adalah komoditas ekspor utama kita, tapi substitusinya terhadap tutupan hutan menjadi salah sumber utama petaka di Sumatera.
Dus, kita harus meluaskan pengertian “Collapse” dalam judul tulisan ini bahwa runtuhnya sebuah peradaban atau hilangnya sebuah negara dan, sebagaimana diinterpretasikan Prabowo dalam buku “Ghost Fleet”, bukannya hanya disebabkan oleh hancurnya ekologis tapi juga runtuhnya moral pemimpin. Indonesia hari ini adalah “Negeri Tabola Bale”, ilmu diabaikan dengan reasoning didangkalkan dan moralitas dikerdilkan untuk mendukung kepentingan elite.
Tiap hari para pemimpin melakukan hal yang sama dengan alasan-alasan fabrikasi yang berubah-ubah. Jokowi adalah pembohong yang tidak cerdas sehingga kebohongan terlihat nyata. Pemimpin lain menipu dengan tutur kata yang halus terstruktur untuk menyembunyikan motif buruk di baliknya. Yang lain berapi-api meneriaki cinta tanah air untuk menjustifikasi bisnis ekstraktifnya. Collapse memberi peringatan keras kepada kita untuk memahami dan mencintai lingkungan tempat kita melangsungkan kehidupan. Kalau tidak, kekhawatiran Prabowo bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 jadi kenyataan.









Komentar