“karena kritik Najla itu murni sebagai DPRD kepada Gubernur, yang jelas jika di kaitkan dengan Almarhum Hi gani (Hi.Gani Kasuba), kami tidak trima dan tidak sependapat”tandas dia.
Menurut Yaret, almarhum KH. Abdul Gani Kasuba adalah sosok pemimpin yang dihormati dan menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan Maluku Utara. Karena itu, menyentuh nama baik beliau dalam konteks politik sekarang adalah tindakan yang tidak pantas.
“Kami di keluarga besar IKA-TOGALE menganggap almarhum sebagai orang tua kami. Maka kami mengingatkan, jangan sampai komentar-komentar yang keluar dari buzzer Gubernur ini menyinggung keluarga besar kami, karena itu bisa dianggap melanggar adat dan etika masyarakat Maluku Utara,” tegasnya.
Yaret juga meminta agar persoalan antara pejabat publik dan lembaga politik diselesaikan secara kelembagaan, bukan melalui serangan pribadi di media sosial.
“Kalau ada perbedaan pandangan, selesaikan di lembaga, bukan dengan membawa-bawa nama orang yang sudah meninggal dunia,” tambahnya.
Ia menutup dengan imbauan agar para buzzer pendukung Gubernur Sherly Djoanda Laos menahan diri dan lebih bijak dalam berkomentar.
“Hormati yang masih hidup, muliakan yang sudah tiada. Jangan jadikan ruang publik sebagai tempat mencaci, apalagi terhadap tokoh yang sudah berjasa bagi daerah ini,” pungkas Yaret. (*)








Komentar