Menurut Rohadi, PT ARA sempat memberikan kompensasi berupa pupuk senilai Rp500 ribu hingga Rp2 juta pada Oktober lalu. Namun, janji ganti rugi lanjutan tak kunjung terealisasi. Sementara PT JAS, kata dia, bahkan tidak pernah merespons keluhan warga.
“Mereka datang untuk menambang, bukan untuk bertanggung jawab,” tegasnya.
Tak hanya petani sawah, petani kelapa juga merasakan dampak serupa. Hayarudin, salah satu warga, menyebut lumpur merah dari aktivitas tambang kerap masuk ke kebun saat banjir, menyebabkan puluhan pohon kelapa mati dan produksi kopra anjlok.
“Dulu bisa 2 ton, sekarang tinggal 800 kilogram. Sekitar 30 pohon kelapa mati. Pemerintah desa dan kecamatan seolah menutup mata,” keluhnya.










Komentar