1. Pendahuluan
Gagasan tentang menjadikan Maluku Utara sebagai pusat pengembangan rempah dunia bukanlah ide baru. Wacana ini telah muncul lebih dari satu dekade lalu, dimulai dari pemikiran akademis seorang ekonom lokal, Dr. Muchtar Adam (Universitas Khairun, Ternate) pada tahun 2011.Ekonom kritis pertama kali mengutarakan gagasan ini saat wawancara dengan media onlin RRI yang diterbitkan pada tahun 2011 silam.
Empat belas tahun kemudian, di tahun 2025, gagasan yang serupa diangkat kembali ke tingkat nasional oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Kedua tokoh ini berbicara dari ruang yang berbeda, satu dari ranah akademik daerah, satu dari ranah kebijakan nasional namun keduanya berpijak pada semangat yang sama: menjadikan Maluku Utara kembali berjaya melalui hilirisasi dan industri rempah.
2. Gagasan Dr. Muchtar Adam (2011): Fondasi Akademik dan Visi Lokal
Dr. Muchtar Adam memandang bahwa akar persoalan ekonomi di Maluku Utara terletak pada panjangnya rantai pasok dan ketergantungan pada pasar luar daerah.
Dalam pandangannya, pembangunan industri pengolahan rempah di Sofifi adalah solusi strategis untuk memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan nilai tambah bagi petani.
Muchtar menyoroti bahwa produk seperti kelapa dan cengkih masih harus dikirim ke Surabaya untuk diolah menjadi produk turunan, yang menyebabkan nilai ekonomi bocor ke luar daerah.
Dengan adanya industri lokal di Sofifi, petani akan mendapatkan harga yang lebih baik, dan daerah akan menikmati efek berganda ekonomi (multiplier effect) berupa peningkatan lapangan kerja, pendapatan, dan daya saing daerah.
Secara konseptual, Muchtar mengusulkan agar Maluku Utara membangun model pembangunan berbasis sumber daya lokal (resource-based industrialization), sebuah pendekatan pembangunan daerah yang menekankan hilirisasi dan penguatan ekonomi rakyat.
3. Gagasan Mentan Amran Sulaiman (2025): Realisasi dan Dukungan Kebijakan Nasional
Empat belas tahun kemudian, semangat yang sama muncul kembali, kali ini dalam bentuk implementasi kebijakan nasional.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dalam kunjungan kerjanya ke Maluku Utara (2025), menyatakan komitmennya untuk mendorong Maluku dan Maluku Utara menjadi pusat pengembangan rempah dunia.














Komentar