oleh

Ulasan Khusus: Dari Gagasan Akademik ke Kebijakan Nasional — Maluku Utara Menuju Pusat Rempah Dunia

-Ekslusiv-399 Dilihat

Berbeda dengan Muchtar yang berbicara dalam konteks konseptual, Amran menegaskan kesiapan infrastruktur dan dukungan konkret pemerintah pusat, antara lain:

Pembangunan pabrik hilirisasi kelapa, yang kini telah menghasilkan produk turunan seperti santan dan susu kelapa.

Peningkatan harga kelapa hingga 1.300% akibat hilirisasi dan perbaikan rantai pasok.

Program revitalisasi lahan dan bantuan pemerintah sebesar 371 triliun untuk sektor pertanian nasional, termasuk untuk pengembangan rempah di Maluku Utara.

Fokus pada komoditas pala dan cengkih sebagai basis klaster industri rempah.

Dalam pernyataannya, Amran tidak hanya menghidupkan kembali romantisme kejayaan rempah masa lalu, tetapi juga menempatkannya dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional modern, yakni hilirisasi pertanian berbasis industri dan ekspor.

4. Titik Temu dan Lanjutan Gagasan

Jika dicermati, kedua gagasan ini memiliki benang merah yang sangat jelas:

1. Hilirisasi dan nilai tambah lokal : keduanya menolak pola lama ekonomi ekstraktif dan menekankan pentingnya industri di Maluku Utara.

2. Keadilan ekonomi bagi petani : baik Muchtar maupun Amran menempatkan petani sebagai aktor utama yang harus menikmati hasil pembangunan.

3. Sofifi dan Maluku Utara sebagai simpul industri, keduanya memandang kawasan ini memiliki potensi strategis sebagai pusat logistik dan industri berbasis rempah.

Perbedaannya terletak pada tataran gagasan dan dukungan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *