oleh

PKS “Tolak” Kebijakan Digitalisasi Pendidikan di Maluku Utara: “Bangku dan Papan Tulis Saja Masih Rusak”

-Malut-492 Dilihat

Lebih lanjut, Suaib mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak bisa hanya berorientasi pada citra modernisasi. Ia menegaskan, digitalisasi tanpa pemerataan sarana justru berpotensi memperlebar kesenjangan mutu pendidikan antar wilayah di Maluku Utara.

“Saya kira digitalisasi itu penting, tapi harus proporsional. Kalau daerah-daerah sudah maju, silakan. Tapi kalau sekolah-sekolah SMU dan SMJ saja masih kekurangan bangku, papan tulis, dan ruang layak belajar, maka itu bukan prioritas. Pemerintah seharusnya lebih dulu membenahi fasilitas fisik dan menambah alokasi BOSDA,” tegas Ketua Fraksi PKS itu.

Baca Juga  Tahlilan 1 Tahun Wafatnya KH Abdul Gani Kasuba, Sultan Tidore Sebut Almarhum Benteng Penjaga Islam Maluku Utara

Suaib juga menyinggung soal kebijakan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang menurutnya masih banyak dikritik karena besaran dan penyalurannya belum maksimal. Ia mendesak Pemprov Maluku Utara agar menaikkan nilai BOSDA untuk menjamin pemerataan mutu pendidikan di seluruh wilayah.

“Kebijakan BOSDA juga masih banyak yang mengkritisi. Banyak sekolah yang belum bisa berbuat banyak karena dana yang terbatas. Bahkan masih ada guru-guru yang mengajar pagi tanpa sarapan karena tidak ada alokasi anggaran tambahan,” ungkapnya.

Baca Juga  DPD Dapil Lampung Saja Tolak PT.Ormat di Halbar, Publik Pertanyakan : Bagaimana Dengan DPRD dan DPR, DPD Dapil Malut

Melalui pernyataan itu, Is Suaib menegaskan posisinya bahwa digitalisasi pendidikan hanya bisa berjalan efektif jika didahului oleh pemerataan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.

”Fraksi PKS akan kawal kritis usulan program ini di tingkat pembahasan”tandasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed