Peristiwa di Jambula menjadi cerminan baru pola kepemimpinan daerah yang solutif dan kolaboratif. Gubernur Sherly Djoanda tampil sebagai figur pemimpin yang mengutamakan dialog dan tindakan nyata, sementara Rizal Marsaoly memainkan peran strategis sebagai birokrat teknokrat yang menjembatani kebijakan pusat dan daerah.
Keduanya berhasil mengubah potensi konflik menjadi momentum rekonsiliasi sosial antara masyarakat dan pemerintah.
Meski blokade telah dibuka, warga tetap berkomitmen mengawal janji pemerintah hingga seluruh program direalisasikan, sedangkan aparat TNI-Polri memastikan situasi tetap kondusif selama proses berlangsung.
Langkah cepat dan terukur dari Sherly dan Rizal ini menunjukkan bahwa kehadiran pemimpin di lapangan masih menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah.(***)








Komentar