OPINI

Hasby Yusuf, Potret Konsistensi Perjuangan Kemanusiaan dan Keumatan [Part.37].

Anwar Husen/Kolomnis tetap.

Dia karib saya.Kami sama-sama Kahmi,sama-sama dari Tidore,domisilinya di Ternate.Di Facebook,kami sering bercanda saat saling mengomentari postingan.Apalagi itu bertepatan event tertentu,piala dunia dan piala eropa,misalnya,dalam sepakbola.Di piala dunia 2022 lalu,karib ini lebih beruntung.Tim kesayangannya bisa menembus final meski harus bertekuk lutut dari argentina di sesi adu pinalti.Tim saya,Belanda,tersingkir lebih awal,dari Argentina juga.Di WAG Kahmi,kami sering bercanda pula.Kebetulan dia sekretaris Kahmi wilayah Maluku Utara mendampingi koordinator presidium Ishak Naser.Mereka terlihat kompak menakhodainya.

Hasby Yusuf (Calon Anggota DPD RI)

Terasa ada yang bernas dan kadang lucu jika “berinteraksi” dengan karib ini.Dan karena alasan “karib” itulah,tulisan pendek ini makin sulit menemukan posisi “berdiri”nya untuk alasan objektifitas.Tak apa-apa.

Dia adalah Hasby Yusuf.Memilih mengundurkan diri dari ASN di universitas Khairun Ternate untuk untuk pilihan profesi lain.Dan itu sah,setiap orang punya pilihan menentukan nasibnya sendiri sepanjang tidak ada hal-hal prinsip yang di langgar.

Saya pribadi,senang mengamati orang yang relatif “merdeka” dengan prinsip hidupnya.Dan itu,tak bisa di lakukan oleh banyak orang.Memilih mundur dari ASN misalnya,yang sudah pasti “lokomotif” mengepulkan asap dapurnya,sebuah keputusan beresiko yang tak banyak dan tak berani di pilih ASN.Ada juga beberapa karib yang telah duluan mengambil resiko ini dan ternyata punya “nasib” lebih baik dengan pilihan barunya Bahkan hingga bisa menjadi kepala daerah.

Yang lebih dari karib ini,dalam pandangan saya tentunya,punya konsistensi sikap yang lebih dalam urusan “peduli” pada hal ihwal sosial dan kemanusiaan di berbagai level,bahwa hingga internasional.Tak terhitung kiprahnya di medan ini.Kurang lebih 10 tahun lebih berkiprah sebagai aktivis kemanusiaan. Mengumpulkan bantuan dari bencana di Lombok, Palu, gempa Ambon, Gane hingga Galele. Dalam aksi kemanusiaan internasional pernah terlibat dalam penggalangan dana untuk pengungsi Muslim Rohingya, Galang dana untuk muslim Syiria, Palestina hingga bantuan untuk Masjid Al-Aqsa. Sekarang tetap fokus di kemanusiaan sambil bersama kawan kawan distribusi Al-qur’an ke semua pelosok Maluku Utara.

Yang saya tulis ini,tentu bukan monopoli seorang Hasby karena ada juga orang-orang “pilihan” lainnya di berbagai level.Juga,tentu bukan hal baru darinya,sesuatu yang telah luas di ketahui publik Maluku Utara bahkan hingga ke level lebih tinggi.Saya hanya ingin sedikit mendeskripsikan “bobot nilai”nya.Bahwa sesungguhnya perjuangan untuk kemanusiaan adalah sejatinya “perjuangan”,membebaskan setiap makhluk Tuhan yang kepadanya di nisbatkan harkat,derajat,martabat dan harga diri,yang karena alasan-alasan itulah makhluk Tuhan yang bernama manusia itu patut mengemban predikat sebagai khalifah fil ard.Perjuangan apa lagi yang lebih tinggi dan mulia di banding membebaskan manusia dari belenggu kehancuran kemanusiaannya???Di titik ini,kita patut memberi apresiasi lebih.

Ada cerita yang semalam saya dengar dari karib saya,sesama anak kampung saya dari Soadara,Tidore,yang berdomisili di Santiong.Usai magrib berjamaah,kami iseng cerita lepas di serambi masjid.Dia mengisahkan bagaimana peran seorang Hasby yang “nekat” mengambil sikap mengembalikan seorang karib sesama di HMI dulu,untuk menjalani perawatan lanjutan.Padahal karibnya yang sakit ini,oleh pihak keluarga telah di kembalikan ke kediamannya dengan berbagai alasan.Hasby maju dan mengambil semua “resiko”,yang di saat sama,sang buah hatinya,seorang bocah mungil,juga sedang berbaring menanti “keajaiban” di RSU Chasan Busoiri,Ternate.Sang buah hatinya pun keburu di panggil menghadap kehadiratNya.

Karib ini,saat ini sedang berikhtiar untuk sebuah konstestasi politik di level nasional.Dulu pernah mencobanya tetapi belum berhasil.Pilihannya masuk wilayah politik,mungkin pilihan atas sikap politik.Tetapi merunut aktifitasnya selama ini yang terbilang konsisten dalam “perjuangan” sosial dan kemanusiaan,mungkin adalah panggian nuraninya,sebuah sikap,yang juga “langka”.Tak banyak orang yang bersedia “menceburkan” diri secara total tanpa pamrih,tanpa imbalan materi.

Tak mudah menulis sesuatu tentang orang yang paling dekat dengan kita,ketika pujian dan sanjungan telah menjadi “kebutuhan” bagi yang di “sanjung” dan yang memuji.Saya menyadari “resiko” ini.Karenanya,saya berupaya seobjektif mungkin punya “posisi berdiri” dalam melihat keutuhan sudut pandang.

Tetapi ada satu hal yang pasti,memilih mendedikasikan diri untuk perjuangan kemanusiaan dan keumatan,tentu perjuangan yang bernilai tinggi.Yang patut memberi “imbalan”nya,tentu yang ber”maqam” lebih tinggi pula.Saya doakan karib ini bisa sukses dengan segala perjuangan dan ikhtiar dalam hidupnya.Wallahua’lam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close