OPINI

Merawat ‘Wara’ Para Pemimpin [Part.22].

Anwar Husen/Kolomnis tetap.

Ini cerita teman di “Teras Aton” tadi malam.Soal kapasitas ataupun integritas pemimpin,ataupun calon pemimpin,kepala daerah maksudnya.Saya tak mungkin menyebut person kepala daerah ini tetapi saya percaya dengan “referensi” teman yang memberi info dari sang Bupati di sebuah kabupaten di Maluku Utara,di periode berjalan ini.

Begini ceritanya : saat bersama karibnya,seorang petinggi partai besar di Maluku Utara,bersilaturrahmi ke kediaman sang Bupati ini di Ternate jelang pelantikannya saat itu,ada hal yang membuatnya kaget dari pengakuan sang Bupati ketika karibnya ini iseng bertanya setelah melihat ada tiga mobil baru “berkelas”,terparkir di garasi kediamannya : saya sengaja membeli mobil-mobil ini sebelum pelantikan untuk di pakai sementara setelah pelantikan sebagai Bupati agar nantinya tidak ada yang bicara.kata “bicara”nya ini maksudnya,mungkin saja menunjuk pada penilaian publik bahwa baru saja di lantik tetapi sudah punya mobil baru.Tak tanggung-tanggung,tiga mobil sekaligus.Dia rupanya memahami benar karakter dan kultur masyarakat kita.Sang Bupati ini memang latarnya pengusaha dan relatif tidak punya pendidikan yang “tinggi”.

Bagi saya,ini hal menarik untuk di tulis.Alasannya simpel,baru kali ini saya dengar pengakuan seperti ini,sesuatu yang mungkin sangat jarang kita dengar,khususnya di saat ini.Lagi pula,pengakuan ini datang dari seseorang yang relatif bukan memiliki pendidikan yang relatif tinggi dan tidak terlalu politis berpikirnya.Bisa jadi ini pengakuan jujur,dari hati.

Bukan rahasia lagi,
jika menjadi kepala daerah,apapun levelnya,
sama keadaannya,
cukup punya potensi untuk “mengumpulkan” pundi-pundi kekayaan.Di saat yang sama,publik dengan mudah bisa “memverifikasi” seberapa besar harta kekayaan seseorang sebelum menjadi kepala daerah.Terlalu telanjang untuk bisa mengakses itu semua,baik dari kehidupan kesehariannya hingga melalui mekanisme Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara [LHKPN] oleh Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK].

Dalam terminologi agama hingga budaya masyarakat kita,ada yang di sebut “wara”,sebuah
istilah untuk menunjukan nilai kehati-hatian,kepantasan.Pantas dalam pandangan banyak orang,publik.Bahasa kerennya mungkin sinonim dengan psikologi publik,hal yang di “tuntut” untuk harus di jaga oleh seorang pemimpin.Di kedai-kedai Kopi hingga di emperan jalan,orang dengan mudah,karena variabel keterbukaan informasi,bisa menghitung-hitung seberapa besar “income” yang potensial di terima oleh seorang kepala daerah per bulan,per tahun hingga di tiap periodenya,misalnya.

Dari aspek psikologi,motivasi setiap kandidat ketika memutuskan maju menjadi kepala daerah,bisa di “ukur” dari seberapa besar harta kekayaannya pertama kali yang terekspos.Yang punya cukup kekayaan di awal,
bisa jadi berbeda motivasinya ketika berkontestasi,bahkan hingga terpilih nanti.Demikian sebaliknya.Fakta ini akan terlihat di akhir masa jabatannya.

Fakta yang tersaji di keseharian kita,banyak “gaya” yang nampak : ada kepala daerah yang ketika menjadi kepala daerah,
punya sensitifitas yang sangat kuat terhadap warga yang di pimpinnya.
Setiap nominal yang di dapat,di abdikan buat warganya dengan berbagai cara bahkan hingga membagi-bagi uang kontan.
Bahkan terkesan kepala daerahnya menjadi “miskin”.
Ada pula kepala daerah yang terkesan tidak terlalu “pusing” dengan urusan berbau Uang.Mungkin bukan tipe pengumpul kekayaan.Kepemimpinannya terlihat mengalir tanpa banyak masalah.
Tetapi ada juga yang terlihat begitu “glamour” memamerkan kekayaannya tanpa sedikitpun ada perasaan risih ketika selesai menjabat.Tampak begitu “kaget” bahkan terkesan bangga bisa malakukan itu.Untuk tipe begini,teman saya bercanda : yang bersangkutan punya potensi gangguan jiwa jika di periksa psikiater.

Kepemimpinan kepala daerah saat ini adalah kepemimpinan politik,punya “resiko” politik.Hal yang paling penting di “rawat” adalah reputasi.Di atas semuanya,publik akan dengan mudah “melekatkan” siapa sesungguhnya yang pantas di sebut sebagai pemimpin dalam arti sesungguhnya,
yang detak nadi kepeduliannya,beriringan dengan detak nadi warganya.

Dan sang Bupati yang tak punya pendidikan tinggi tadi,ternyata punya perasaan “wara”,sense of crisis yang tinggi dan mungkin tak banyak yang di miliki kepala daerah lainnya.
wallahua’lam.

#ramadan kareem.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *