2.Kesetiaan pada prinsip
Bahwa hidup dalam kebenaran jauh lebih menenangkan daripada hidup dalam kepura-puraan.
3.Keanggunan dalam diam
Beliau tidak perlu banyak bicara untuk dihormati; tindakan dan pilihan hidupnyalah yang berbicara keras.
“Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai istri yang ingin melihat suaminya tetap menjadi orang baik.”–Sebuah esensi dari pengabdian Ibu Merry Hoegeng.
Dari sini kita juga belajar, bahwa integritas seorang pria seringkali diuji dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya.
Namun integritas seorang istri diuji dari bagaimana ia mendukung prinsip suaminya saat dunia berpaling.”
—000–
Kini, sang bunga itu telah menyusul pemilik hatinya di ke keabadian. Ibu Merry telah bersatu kembali dengan “Pak Hoegeng”-
Pak Hoegeng, tak lagi menunggu sendiri. Ibu Merry telah menyusul, menuntaskan janji setia yang mereka ikat berpuluh-puluh tahun silam.
Mereka meninggalkan kita bukan hanya dengan kenangan, tapi dengan standar moral yang harus terus kita perjuangkan.
Mereka meninggalkan warisan yang jauh lebih mahal dari harta benda: sebuah nama baik yang tak bercela.
Selamat jalan, Ibu Merry Hoegeng. Teriring doa agar kedamaian senantiasa mendekapmu, sebagaimana engkau telah mendamaikan hati Pak Hoegeng dalam perjuangannya menjaga negeri ini.
Terima kasih telah mengajarkan kami anak bagsa cara mencintai dengan jujur.
—
Pejaten Barat, 3 Februar 2026
Pukul : 17.00








Komentar