Namun, Pemkot Ternate menyadari bahwa tantangan belum usai. Pemerataan pembangunan, khususnya di tiga kecamatan terluar—Batang Dua, Moti, dan Hiri—masih menjadi pekerjaan rumah. Kekurangan tenaga pendidik dan infrastruktur dasar menjadi fokus utama yang tengah dibenahi.
“Di Batang Dua, kita masih kekurangan sekitar 25 guru. Ini sedang kita penuhi, termasuk melalui skema P3K paruh waktu,” ungkap Thamrin.
Selain pendidikan, penguatan ekonomi lokal di wilayah pulau juga menjadi prioritas. Batang Dua diarahkan sebagai sentra perikanan dan pertanian, khususnya komoditas kelapa yang kini menjadi penopang ekonomi masyarakat. Sementara Moti difokuskan pada sektor perikanan dan pertanian rakyat.
“Program pengembangan ekonomi akan disusun oleh dinas teknis agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat,” tambahnya.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Wali Kota Tauhid Soleman, Kota Ternate tidak hanya mampu mempertahankan prestasi, tetapi juga terus bergerak maju dengan visi pembangunan manusia yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah dinamika politik dan birokrasi daerah, Ternate menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang matang, sinergi lintas sektor, dan komitmen yang kuat, pembangunan manusia bisa menjadi fondasi utama kemajuan daerah.





Komentar