Catatan Redaksi: Saatnya Gubernur Belajar dari Bawah
Apa yang disampaikan Wali Kota Ternate bukan sekadar kritik, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana pemerintahan seharusnya dijalankan. Dalam sistem desentralisasi, kepala daerah bukanlah bawahan gubernur, melainkan mitra strategis dalam membangun daerah. Ketika koordinasi diabaikan, ketika simbolisme pemerintahan diremehkan, maka yang lahir adalah kekacauan administratif dan ketimpangan pembangunan.
Gubernur Sherly Tjoanda harus menyadari bahwa memimpin provinsi bukan sekadar mengelola aset pribadi atau memperluas jaringan bisnis. Ini tentang membangun kepercayaan, membangun sinergi, dan menghormati struktur pemerintahan yang ada.
Jika kritik ini tidak dijadikan bahan introspeksi, maka bukan tidak mungkin Maluku Utara akan terus terjebak dalam kepemimpinan yang elitis, eksklusif, dan jauh dari rakyat.
Penutup: KULTUM yang Mengguncang
Kritik Wali Kota Ternate telah membuka kotak pandora tentang bagaimana pemerintahan dijalankan di Maluku Utara. Ini bukan sekadar “kuliah tujuh menit”, tapi peringatan keras bahwa rakyat dan para pemimpin daerah tidak akan tinggal diam melihat arogansi kekuasaan.
Kini, bola ada di tangan Gubernur Sherly Tjoanda. Apakah ia akan merespons dengan bijak, atau justru memperkuat kesan bahwa ia lebih cocok menjadi pengusaha ketimbang pemimpin daerah?
Namun diujung Kota Ternate, ada yang interupsi “ini pertemuan dua pandangan antara Walikita Tauhid Soleman yang seorang pamong dan Sherly Tjoanda yang enterprenuer.
“ini kren karena 2 latar yg berbeda menampilkan gaya berbeda baik bagi pengembangan kajian
1. Sherly Model Enterpreneur Government
2. Tauhid Model Pamong
keduanya memiliki prespektif yang berbeda dalam layanan publik”ujar ekonom ini***





Komentar