Pernyataan Tauhid Soleman langsung mendapat respons luas dari publik. Asrul, seorang aktivis dan pengamat lokal, menyebutnya sebagai “kuliah tujuh menit” yang membuka mata banyak pihak. “Belajar dari pengalaman jauh lebih penting daripada melangkah tanpa arah,” tulisnya di akun Facebook.
Sementara itu, Ketua DPW Partai Umat Maluku Utara, AbduRahim Fabanyo, memberikan komentar yang lebih tajam. Ia menyebut perbedaan antara “doktor pemerintahan” dan “pedagang hotel” sebagai akar dari ketimpangan pemahaman dalam tata kelola pemerintahan. “Sherly Tjoanda bukan paham pemerintahan, dia hanya berpikir bagaimana hotelnya terus dipakai oleh Pemprov,” sindirnya.
Fabanyo juga menyinggung praktik “one man show” Gubernur yang kerap melakukan kunjungan tanpa koordinasi. “Sherly, bupati dan wali kota bukan bawahan Anda. Itu yang harus Anda pahami,” tegasnya.
Antara Legasi dan Citra: Siapa yang Sebenarnya Memimpin?
Dalam paparannya, Tauhid Soleman juga menyinggung soal “legacy” atau warisan kepemimpinan. Ia menolak gagasan bahwa keberhasilan pemerintahan adalah milik pribadi seorang pemimpin. “Kita tidak sedang membangun legasi saya, tapi legasi kita. Kita itu gubernur, wali kota, dan bupati. Kalau yang dikejar hanya legasi saya, itu hanya pencitraan,” katanya.
Pernyataan ini seolah menjadi tamparan bagi gaya kepemimpinan Sherly Tjoanda yang dinilai lebih mementingkan citra pribadi ketimbang kolaborasi lintas pemerintahan.
Gubernur Sherly Mengelak Namun Berbalik Blunder
Gubernur Sherly rupanya tak tinggal diam atas kritik Tauhid yang berdanpak luas terhadap dirinya.Sherly justru balik menunjuk Walikota Tauhid yang tidak menghadiri agendanya bersama Menteri KumHAM.
Sayangnya kritik balik Shwrly itu direspon publik seperti senjata makan tuan.Sherly dinilai mengkritik diri sendiri, tanpa koordinasi namun menuntut pelayanan pemkot Ternate.
“Apa Walikota Ternate cukup tahu info kunjungan Gubernur dan Menteri di media saja ya tanpa koordinasi”sahut Ahmad.









Komentar