Dr. Tauhid menyampaikan tiga pokok pikiran fundamental yang menjadi landasan optimisme APEKSI dalam menyongsong tahun 2026:
1. Kebijakan Harus Kontekstual dan Berbasis Data
Ia menekankan pentingnya pendekatan teknokratis yang berpijak pada konteks lokal. Menurutnya, generalisasi kebijakan nasional sering kali mengabaikan keragaman karakter kota—dari kota pesisir, kota industri, hingga kota kepulauan. Hal ini mempersempit ruang inovasi dan respons lokal.
2. Inkonsistensi Kebijakan Harus Dibedah
Dr. Tauhid menyoroti dampak serius dari proyek strategis nasional yang tidak tuntas atau berubah arah. “Ketika proyek berhenti, beban sosial, lingkungan, dan tata ruang justru ditanggung oleh kota dan warganya,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekadar soal proyek, melainkan soal keadilan pembangunan.
3. Perkuat Dialog Antar Level Pemerintahan
Pidato ini juga menjadi ajakan untuk memperkuat kepercayaan dan dialog antara pemerintah pusat dan daerah. “Kota tidak meminta keistimewaan. Kami hanya ingin agar keragaman konteks diperhitungkan dan konsistensi kebijakan dijaga,” tegasnya.
Solidaritas Kota: Modal Sosial yang Tak Ternilai
Dr. Tauhid juga menyoroti pentingnya solidaritas antar kota yang terbukti selama tahun 2025, terutama dalam penanganan bencana dan penguatan layanan publik. Ia menyebut solidaritas ini sebagai “modal sosial dan institusional yang tak ternilai” dalam menghadapi tantangan bersama.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa akhir tahun ini diwarnai oleh berbagai bencana alam yang menjadi tamparan keras bagi para pengelola pembangunan. “Jika kita gagal memperlakukan bumi sebagaimana kita memperlakukan ibu kita sendiri, maka kita akan kehilangan kehangatan pelukannya,” ucapnya puitis, mengajak semua pihak untuk lebih bijak dan berkelanjutan dalam membangun.









Komentar