Sofifi – Di tengah kritik tajam terhadap kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda, muncul pandangan berbeda dari kalangan akademisi. Pakar Ekonomi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Dr. Mukhtar Adam, justru menilai bahwa proyek Trans Kie Raha adalah langkah strategis yang berpotensi menjadi solusi atas ketimpangan pembangunan di Maluku Utara.
Menurut Mukhtar, Trans Kie Raha bukan sekadar proyek infrastruktur jalan, melainkan sebuah “kecerdasan strategis” dalam menyatukan manusia dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut proyek ini sebagai respons terhadap realitas pahit: pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang tinggi secara statistik, namun tidak inklusif dan tidak menyentuh kehidupan masyarakat di pulau-pulau kecil.
“Pertumbuhan ekonomi kita 32 persen, tapi masyarakat di pulau-pulau kecil tidak merasakannya. Kenapa? Karena pusat pertumbuhan ada di Halmahera, sementara 51 persen penduduk tinggal di pulau-pulau kecil,” ujar Mukhtar dalam wawancara eksklusif.
Hijrah Ekonomi: Dari Pulau Terpencil ke Pusat Pertumbuhan
Mukhtar mengaitkan Trans Kie Raha dengan konsep hijrah dalam Islam—sebuah pergeseran strategis dari keterisolasian menuju pusat aktivitas. Ia menyebutnya sebagai “pesan keilahian tentang proses bergeser” yang relevan dalam konteks pembangunan Maluku Utara.
“Trans Kie Raha bukan hanya jalan, tapi transformasi. Kita tidak bisa lagi membiarkan masyarakat tinggal di wilayah yang tidak punya akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Mereka harus didekatkan ke pusat pertumbuhan agar bisa menjadi pelaku pembangunan, bukan sekadar penonton,” tegasnya.
Ketimpangan Struktural: Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi



Komentar