oleh

CATATAN REDAKSI PU —- SARUMA FEST 2025: Diplomasi Budaya Bassam–Helmi, Menenun Harmoni dari 21 Etnis di Bumi Saruma

HALMAHERA SELATAN, PU– Di bawah langit cerah Bacan Selatan, denting gong menggema menandai dimulainya sebuah perayaan yang lebih dari sekadar festival budaya. SARUMA FEST 2025 bukan hanya panggung seni dan tradisi, tetapi juga panggung diplomasi sosial yang cerdas. Di sinilah, Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin menenun benang-benang keberagaman menjadi satu kain harmoni yang kokoh: Halmahera Selatan yang damai, stabil, dan bersatu.

Festival yang digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Halmahera Selatan ke-21 ini menjadi bukti nyata bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga strategi. Strategi membangun stabilitas sosial, memperkuat identitas lokal, dan menciptakan ruang dialog antar-etnis yang hidup berdampingan di Bumi Saruma.

Baca Juga  Bupati Halsel Bassam Kasuba Letakkan Batu Pertama Sekretariat HMI Bacan: Simbol Dukungan Nyata untuk Pemuda Daerah

21 Etnis, Satu Panggung, Satu Tujuan

Tak kurang dari 21 etnis dari berbagai penjuru Nusantara tampil dalam parade budaya yang memukau. Dari Kesultanan Bacan hingga komunitas Tionghoa, dari IKK Tidore hingga KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan), semua hadir dengan busana adat yang sarat makna. Setiap helai kain, setiap motif, setiap langkah dalam parade bukan hanya pertunjukan visual, tetapi juga narasi sejarah, identitas, dan kebersamaan.

Baca Juga  HADIRI HPN, BUPATI BASSAM KASUBA LONTARKAN PANDANGAN MENARIK DAN STRATEGIS TENTANG HUBUNGAN PEMERINTAH DENGAN PERS

“Ini bukan sekadar festival. Ini adalah panggung persatuan. Kita ingin menunjukkan bahwa Halmahera Selatan adalah rumah bagi semua,” ujar Bupati Bassam Kasuba dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan meriah.

Dari Konflik ke Kolaborasi: Diplomasi Budaya sebagai Pilar Stabilitas

Dua dekade lalu, Halmahera Selatan pernah menjadi saksi luka akibat konflik horizontal. Namun kini, luka itu dijahit dengan benang kebersamaan. SARUMA FEST menjadi simbol transformasi sosial: dari segregasi menuju integrasi, dari potensi konflik menjadi potensi kolaborasi.

Baca Juga  Langkah Strategis Bupati Bassam Kasuba: Bangun Kemitraan Pemerintah dan Organisasi Mahasiswa

Para pengamat politik dan sosiologi menilai langkah Bassam–Helmi sebagai bentuk diplomasi budaya yang strategis. Di tengah keragaman etnis yang bisa menjadi tantangan, mereka justru melihat peluang untuk membangun stabilitas sosial-politik yang berkelanjutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *