Smith Alhadar : Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)
Peristiwa teror terhadap komunitas Yahudi di Pantai Bondi, Sydney, Australia, menuai kecaman seluruh dunia, termasuk negara-negara Islam musuh Israel, seperti Iran. Tragedi itu memang menyedihkan.
Pada Minggu, 14 Desember, ketika orang Yahudi sedang merayakan Hari Raya Hanukkah – kadang disebut Festival Cahaya –seorang ayah dan puteranya, Sajid Akram (50) dan Naveed Akram (24), membrondong ratusan peluru ke mereka.Tak kurang dari 14 orang tewas dan puluhan lain cedera. Andaikan seorang Muslim keturunan Suriah yang berada di TKP tidak bergelut dengan pelaku untuk merampas senjatanya, tentu korban yang jatuh akan lebih banyak.
Kendati pemerintah Australia belum mengungkap identitas pelaku, PM Israel Benjamin Netanyahu yang melakukan genosida terhadap warga Muslim Palestina di Gaza langsung menyalahkan pemerintahan PM Anthony Albanese.
Ia mengaitkan peristiwa itu dengan keputusan Australia mengakui negara Palestina. “Pengakuan Anda pada negara Palestina menyiram bensin ke dalam api anti-Semitik,” kata Netanyahu kepada Albanese (Aljazeera, 15 Desember).
Anti-semitisme merupakan diksi yang menakutkan bagi pemerintahan negara-negara Barat sejak peristiwa holocaust yang dilakukan Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler selama Perang Dunia II.
Menurut catatan Sejarah, tak kurang dari 6 juta orang Yahudi dibunuh di kamp-kamp konsentrasi dan kamar gas. Yang dilakukan Nazi merupakan puncak dari anti-Semitisme yang dilancarkan hampir seluruh negara Eropa terhadap diaspora Yahudi selama 2.000 tahun sejak orang Yahudi melakukan eksodus pasca Kekaisaran Romawi menghancurkan Yerusalem pada abad ke-7 M.
Sejak abad pertengahan Gereja Katolik melakukan peradilan agama (inkuisi) yang disertai hukuman brutal terhadap mereka yang mengingkari doktrin gereja. Untuk menebus dosa Barat terhadap kaum Yahudi, kolonial Inggris menciptakan tanah air bagi warga Yahudi di tanah Palestina pasca Perang Dunia II.
Tindakan Inggris ketika itu bertujuan menarik dukungan komunitas Yahudi di seluruh dunia yang menguasai keuangan negara-negara Barat dalam perangnya melawan Jerman dan sekutunya selama Perang Dunia I dan II.
Motif lain adalah menciptakan proksi (Israel) mereka di jantung Timur Tengah untuk melayani kepentingan dan hegemoni Barat atas kawasan kaya energi guna menunjang peradaban Barat. Sejak saat itu anti-Semitisme menjadi diksi yang menakutkan politisi di Barat.
Di AS khususnya, tuduhan anti-semitisme bisa mengakhiri karier atau bahkan menghancurkan masa depan seseorang mengingat kampus, lembaga-lembaga strategis nasional, media, kultur, lobi Yahudi, dan bisnis serta keuangan didominasi kaum Yahudi.
Bahkan, Barat rela menodai apa yang mereka sebut sebagai nilai-nilai kebebasan, kemanusiaan, dan penegakan hukum. Lihat, selama genosida Israel di Gaza yang akui lembaga-lembaga PBB, suara pro-Palestina di kampus dibungkam, mahasiswa asing dideportasi, seminar dan demonstrasi anti-Israel dilarang.



Komentar