OPINI

Dari Politik Uang, Pesta Muda-Mudi Hingga Sesi Foto Yang Bikin Lucu : Apresiasi Atas Ide Safari Jum’at [Part 75].

Anwar Husen : Kolomnis/Tinggal di Tidore.

Siang kemarin, usai sholat Jum’at di masjid Nyili Gamtufkange, kelurahan Gamtufkange, Tidore, ada jeda waktu untuk ceramah tentang kamtibmas oleh anggota Polsek Tidore.Mereka adalah tim yang di bentuk di masing-masing Polsek oleh Kapolresta Kota Tidore Kepulauan dan bertanggungjawab di masing-masing wilayahnya.

Namanya kegiatan Safari Jum’at.Target kegiatannya, terjalin silaturahmi antara masyarakat dan Polri, menyampaikan pesan kamtibmas kepada masyarakat dan mengajak masyarakat menjaga situasi kamtibmas menjelang pemilu 2024 nanti.

Karena tak membawa ponsel, saya meminta seorang anggota mereka, menyimpan nomor ponsel saya dan bisa menghubungi saya setelahnya.Nama panggilannya Jul.Usainya, dia menghubungi dan saya mendapatkan beberapa informasi tambahan darinya.

Kalau di tanya, ada yang menarik dari kegiatan ini, saya menjawabnya menarik.Menarik dari sisi ide dan inisiatif, pesan, metode serta target kegiatannya.Meski sudah sering dan tak melulu di waktu Jum’at, efeknya mulai nampak.Minimal menjadi bahan perbincangan para jamaah usai sholat.Saya mengalaminya di beberapa masjid sekitar, di waktu sholat dan isu “tausiah” yang berbeda.Sepertinya, tergantung hal yang jadi isu ramai di masyarakat saat itu.

Di era digitalisasi ini, rasanya kita telah cukup mencerna pesan-pesan begini melalui ponsel kita.Tetapi, “ruh” pesannya jadi kering karena tak melibatkan emosi.Kita cukup sadar bahwa sesuatu itu melanggar aturan misalnya, tetapi belum tentu secara serta merta, kesadaran itu bisa mengkristal menjadi sikap, sikap bathin misalnya, ada niat dan tekad untuk tidak melakukannya.

Saya merasakan ada nuansa yang berbeda.Mungkin karena yang memberi pesan ini adalah sosok anggota polisi yang kelihatan “kompeten” juga meramu pesan dan kutipan pesan Tuhan.Tetapi juga, pesannya adalah sesuatu yang berkatagori pelanggaran kamtibmas, yang nyaris berulang setiap saat dan itu terjadi hingga di tiris rumah kita, tetapi kita mengganggapnya sebagai “biasa-biasa saja”.Mungkin karena sering berulang hingga jadi biasa.

Soal minuman keras [miras], misalnya.Sesuatu yang mulai terlihat biasa-biasa saja di sikapi, padahal kita sadar bahaya dan efek merusaknya bagi generasi muda.Sang “mubaligh” yang anggota polisi ini, menceritrakan macam-macam modus yang di tempuh untuk lolos dari jeratan petugas.Ada analog yang menarik, bagaimana memproteksi peredaran hingga konsumsinya : jika kita di wilayah ini tak lagi menghisap rokok kretek “Surya”, maka pasarnya akan berhenti, karena tak ada lagi penikmat.Distributornya langsung banting stir cari lahan lain.Demikian juga, katanya, dengan miras.Peredarannya langsung berhenti.

Meski tak semudah itu karena harus “menyadarkan” penikmatnya yang “tak jelas” berapa banyak dan di mana saja domisili mereka.Belum lagi mendefenisikan makna “kecanduan” bagi penikmat beratnya.Tetapi saya menaruh harapan atas upaya para anggota polisi ini.Setidaknya, ada “kegelisahan” di internal mereka, yang melahirkan program dan kegiatan ini.Kadang memang, kita butuh di ingatkan terus-menerus setiap waktu.Ada “tesis” lain yang di ungkapnya, jika mayoritas masyarakat kita baik, kita akan memilih pemimpin yang baik.Sebaliknya, pemimpin terpilih di nilai “tak tepat”, karena masyarakat pemilihnya juga tidak beres.Alhasil, pemimpin terpilih adalah cermin kualitas pemilih.Ada benar ungkapan ini.Soalnya adalah bagaimana memecahkan “teka-teki” ini : mana yang lebih duluan harus menjadi “baik”, calon pemimpin atau rakyat pemilih.

Bagi saya, masih lebih baik kita memilih pemimpin yang menggunakan sedikit “cara yang salah” untuk terpilih, tetapi ada tekad kuat untuk mau memperbaiki masyarakatnya yang salah, dari pada sudah salah dan bertekad memelihara dan “melanggengkan” kesalahan.Pada akhirnya, semua ini memang rumit.Tak semudah yang kita duga.Yang tampak sesungguhnya hanya output dari “pustaka” sistem politik kita, yang telah di pilih.

Jujur, saya kaget.Saya pikir ini adalah program yang di gagas secara nasional, ternyata murni idenya pimpinan Polresta Tidore.Sudah sewajarnya sebagai daerah yang kuat kultur Islamnya dan penganut mayoritas, nilai dan pesan agama memang harus di tegakan.

Pesan lain, ada keinginan membatasi waktu pelaksanaan “pesta” hingga pukul 24.00 saja.Pesta apa saja.Ini juga inisiatif yang bagus dan butuh dukungan banyak pihak, terlebih pemangku kepentingan.Ada kampung-kampung tertentu, sepertinya menganggap pesta muda-mudi sebagai hal yang sudah “ketinggalan jaman” dan tak lagi menghiraukannya.Tetapi di kampung tertentu, dia “lagi naik daun”.Jangankan acara kawinan, di ulang tahun warga hingga khitanan misalnya, kalau perlu di buatkan pesta.Esensinya, kita sebetulnya sedang memutar balik “jarum jam peradaban”, saat di mana, memalang jalan umum dan menggelar pesta muda-muda, di anggap semacam “simbol kemoderenan”.

Lepas dari semuanya, membagi tugas di setiap Polsek untuk bertanggungjawab di wilayah kerjanya, memilih masjid sebagai tempat menyampaikan pesan serta membuka sesi diskusi dan meminta pendapat jamaah tentang ide lain, yang mungkin jadi prioritas di wilayahnya, adalah strategi dan pendekatan yang bagus.Patut di apresiasi dan di dukung.

Ada yang lucu saat tiba di anjuran untuk menghindari politik uang dalam pemilu, Pilpres dan Pileg nanti.Mengutip dalil, sang penceramah ini mewanti-wanti bahwa yang memberi dan yang menerima, sama-sama kena ancaman resiko suap menyuap menurut hukum agama.Seorang karib membisiki, mentalitas masyarakat kita sudah pada tingkat “jemput bola”, menawarkan diri.Bukan lagi menunggu datangnya “serangan fajar”, terminologi politik uang yang umum kita dengar.Saya senyum sinis saja menanggapinya.

Saat sesi foto bersama untuk kepentingan dokumentasi tim yang punya hajat ini, semuanya mengambil posisi berdiri, kecuali seorang petugas syara.Dia mengambil posisi menjongkok.

Karib saya, rekan syara teman tadi, yang juga seorang pelatih sepakbola berujar lucu sembari menyebut nama rekan tadi : badiri, ngana kira ini foto pertandingan bola ka apa [berdiri, kau kira ini pose pertandingan sepakbola kah].

Sesi foto ini, di akhiri candaan yang menyegarkan, melengkapi “kesempurnaan” berkah Jum’at di masjid Nyili Gamtufkange.Saya menarueh hormat dan memberi apresiasi yang tinggi atas ide mulia ini.Wallahua’lam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *