oleh

Opini: Bakom dan New Media — Antara Kolaborasi Strategis dan Bayang-Bayang “Operasi Kodok”


Kedua, Independensi Editorial. Teori fourth estate menegaskan media adalah pengawas kekuasaan. Jika new media dibiayai APBN, harus ada firewall yang menjamin ruang kritik. MBG, misalnya, harus boleh dibedah kekurangannya, bukan hanya disosialisasikan keunggulannya.

Ketiga, Literasi dan Etika Digital. Mengacu deliberative democracy, publik perlu diberi “protein informasi”: data, evaluasi, ulasan, bukan sekadar rilis. Bakom bisa mendorong new media memproduksi jurnalisme solusi, bukan jurnalisme seremonial.

Baca Juga  CATATAN REDAKSI : APAKAH GUBERNUR SHERLY TJOANDA TELAH MELAKUKAN ABUSE OF POWER ?

Penutup: Jangan Jadikan New Media Sekadar “Kodok”

Potensi new media sebagai lapangan kerja alternatif bagi jurnalis sangat besar. Tapi jika negara hanya melihatnya sebagai loudspeaker, maka transformasi dari homeless media ke new media akan berakhir menjadi state media berjubah digital.

Bakom harus membuktikan ia bukan “Operasi Kodok” jilid baru, melainkan orkestrator ruang publik yang sehat. Sebab dalam demokrasi, legitimasi tidak dibangun dari likes dan sebaran, tapi dari kepercayaan. Dan kepercayaan hanya lahir dari konsistensi antara niat, transparansi, dan kemerdekaan.***

Baca Juga  Menghitung Kekuatan Di Luar Istana — Tony Rosyid/Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

 

Banten, 8 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *