Lembaga survey tadi,yang di pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017,salah juga prediksinya.Pasangan calon yang di prediksi tak masuk putaran kedua justru jadi pemenangnya di putaran kedua.Dan hal-hal begini,yang selama ini kita tahu,kerap terjadi dan bukan rahasia lagi.Yang masih menjadi rahasia adalah survey itu di lakukan atau tidak,kira-kira begitu.
Semua ini bisa terjadi karena fungsi lembaga kayak begini,tidak saja mau memetakan peta dan kondisi objektif dengan prinsip-prinsip keilmuan secara benar tetapi tentunya juga ada motif lain.Tetapi apapun itu,ada prinsip dasar yang harus di tegakan dan tak bisa di langgar : tidak bisa berbohong.Sebab ketika berbohong maka ada hak publik yang di langgar,hak untuk mendapatkan informasi yang benar.Apalagi jika kebohongan itu mengatasnamakan lembaga yang di persepsikan ” akademik”.Apapun lembaganya,termasuk media masa,tidak bisa memproduksi kebohongan karena berbohong sama artinya merendahkan derajat,martabat dan harga diri publik,yang itu adalah makhluk yang bernama manusia.Bagaimana rasanya di bohongi???apalagi di bohongi oleh orang yang kita percayai???Bukankah hal-hal begini bisa di sebut sebagai eksploitasi manusia atas manusia,sebuah fenomena jahiliyah yang telah lama terkubur kesadaran dan keinsyafan sejarah kemanusiaan???
Publik memang bukan orang per orang,tetapi terminologinya menunjuk manusia dan bukan binatang.Karib saya bercanda dalam sebuah cerita lepas,sekarang ini kebohongan sudah di lakukan secara TSM [terstruktur,sistematis dan masif],sama dengan terminologi pelanggaran aturan pemilu kepala daerah yang bikin orang saling gugat.
Jauh masih lebih baik dan terhormat karib saya yang datang dan menuturkan secara terbuka bahwa dia sedang “cari akal” tadi.Jika nanti belum sempat di ganti,minimal ada niat baik untuk tidak membohongi.Ataupin kejujuran peserta rapat rekan saya tadi,ingin memastikan bahwa harus ada kepastian untuk jangan ada dusta di antara kita,meski dengan sedikit nada guyon,atur langkah.Kita ingin ada mekanisme keterbukaan informasi di tegakan secara jujur dan benar,jangan ada drama “cari akal” dengan mengakali semua hal.Wallahua’lam.(***)









Komentar