
Yang menarik,kemenangan juga di raih partai koalisi Erdogan melawan oposisi CHP di parlemen dengan 49,51 berbanding 35,06 persen.Dengan begitu,partai koalisi di bawah Erdogan akan menguasai parlemen di pemerintahan periode mendatang.Tetapi yang lebih menarik,justru output lembaga survey yang sejak awal menyertai hajatan ini.Hampir semua lembaga survey di anggap “salah” memprediksi hasil ini.Erdogan yang sejak awal di prediksi bakal kalah jauh di banding kandidat oposisi yang di anggap sekuler dan “pewaris” Kemal Ataturk ini,meleset.CHP yang di pimpin Kilicdaroglu adalah Partai Rakyat Republik yang beraliran sekuler.CHP merupakan “Kemalis” alias partai yang ingin menerusakan warisan Mustafa Kemal Ataturk.
Pemicu kekalahan Erdogan,demikian “jualan kecap”nya lembaga survey,adalah variabel tingginya tingkat inflasi dan biaya hidup serta efek ekonomi maupun psikologi bencana alam gempa bumi beberapa waktu lalu yang meluluhlantahkan beberapa wilayah.Tetapi fakta justru menunjukan bahwa di wilayah-wilayah eks gempa ini,Erdogan jadi pemenangnya.
Balik lagi.Di twitter,setidaknya kemarin hingga malamnya,ada topik yang sempat trending beberapa jam,nama sebuah lembaga survey.Hingga pukul 22.40 semalam,ada 6094 tweet.Ternyata memang hasil survey lembaga ini mendominasi beranda platform media ini.Bermacam-macam topik survey,dominan arahnya pada hal-ihwal pemilihan presiden nanti.Saya sendiri bertanya dalam hati,betapa lembaga ini punya banyak uang,bisa melakukan survey secara beruntun dan maraton.Baru kali ini saya menemukan ada lembaga survey yang jadi trending topik.Trending dapat bermakna sensasional,lepas dari baik-buruk.
Yang lucu,ada tweet teman yang,entah karena saking kesal dan bosan,sambil me-retweet potongan berita tentang salah satu hasil survey lembaga ini,dia menulis sedikit sarkasme bahwa kalau lembaga ini,dengan menyebut nama lembaga surveynya,ada di jaman pra kemerdekaan dulu,hasilnya bisa 80 persen rakyat Indonesia puas dengan VOC [persekutuan dagang Belanda yang terkenal dengan praktek monopoli itu] dan Indonesia tidak perlu merdeka.









Komentar