OPINI

Menakar Motif Ekonomi Event Pariwisata.[sebuah prolog].

By.Anwar Husen,S.Pd,M.Si. Pemerhati masalah kepariwisataan/mantan kepala Dinas Pariwisata Prov.Maluku Utara._____

Seringkali kita menghadapi fakta bahwa bobot ekspektasi terhadap sesuatu di kaitkan dengan subjektifitas pengetahuan dan pengalaman.konsekwensi logisnya,kita mengukur sesuatu itu menurut kadar pengetahuan dan pengalaman kita.

Fakta seperti ini sedapatnya harus di hindari jika itu terkait dengan pengelolaan sumber daya publik yang besar nilainya.Taruhlah semisal pelaksanaan event-event pariwisata yang menyedot biaya dan sumber daya publik lainnya uang besar.

Di maluku utara,kita pernah punya event-event pariwisata besar yang membutuhan dukungan sumber daya yang besar pula dalam mengelolanya,baik itu event nasional yang di laksanakan di daerah ataupun murni inisiasi daerah.begitu juga yang di kelola pemerintah ataupun murni inisiatif masyarakat.sebut saja monumen pertamanya yakni Sail Morotai di tahun 2005.di sampingnya ada Legu Gam di Ternate,festival Nuku Pangge Pulang di Ternate dan Tidore,festival Mancing WIDI di Halmahera Selatan,Solar Eclipse festival di momentum gerhana matahari (GMT) pada maret 2016,festival Tanjung Waka di Kepulauan Sula.Juga festival daerah yang pernah masuk dalam kalender event kementrian pariwisata seperti festival Teluk Jailolo,HJT di kota Tidore Kepulauan,dan lain-lain.Juga ada beberapa momentum event yang bernilai wisata dengan semangat memecahkan rekor MURI,dan event religi bernilai wisata STQ nasional di sofifi yang monumental itu.Dan yang paling terakhir,bahkan sedang berlangsung adalah SAIL TIDORE,sebuah event pariwisata yang di dedikasikan untuk menandai momentum 500 tahun Magellan dalam sejarah mengelilingi bumi.

Seperti yang di sebut tadi bahwa suka atau tidak,event pariwisata,di samping bisa di lihat sebagai peristiwa pariwisata, juga merupakan bagian dari peristiwa ekonomi karena memiliki motif-motif ekonomi yang mengiringinya yang langsung ataupun tidak,berpengaruh terhadap pergerakan,pertumbuhan ekonomi bahkan akselerasi pembangunan di suatu daerah.Banyak contoh daerah di indonesia yang mampu memanfaatkan event pariwisata menjadi “jalan baru” mengembangkan ekonomi daerahnya.

SAIL adalah event pariwisata yang sasarannya untuk mendorong dan meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan rakyat melalui pengembangan sumber daya kelautan.kurang lebih sama filosofinya bagi event pariwisata apa saja.ini hanya soal “angle” saja yang jadi titik masuk.menariknya,dari 12 event Sail yang telah bahkan sedang berlangsung di daerah yang memiliki potensi pengembangan yang kuat,Maluku Utara telah mengoleksi 2 Sail hingga saat ini.tentu ada sebuah harapan besar di lekatkan pada event ini.

Sail,sebagaimana event yang memiliki folosifi sama lainnya,harus di pandang dalam 2 sisi yang mutualis yakni sebagai peristiwa pariwisata sekaligus peristiwa ekonomi karena memiliki motif ekonomi.karena itu,mengukur sukses sebuah event pariwisata dari sisi ekonomi haruslah manjadi bagian dari rencana event itu sendiri termasuk penganggarannya yang include dan mandiri.dia tidak bisa di pandang sebagai bagian yang berdiri sendiri atau bahkan tidak penting.

menghitung secara detail implikasi ekonomi pelaksanaan sebuah event pariwisata adalah sebuah kelanjutan yang logis sebagai bagian dan bentuk pertanggungjawaban penerapan prinsip-prinsip ekonomi dalam sebuah kepemipinan publik jika itu di lakukan oleh lembaga pemerintah.prinsipnya sederhana : satu rupiahpun uang daerah yang di belanjakan harus memiliki dampak yang terukur dan tertanggungjawab. Seiring juga banyak fakta yang menyiratkan betapa kita sering lalai menghitung dampak ekonomi bagi kelanjutan sebuah event/destinasi wisata.ini bisa terlihat dari banyaknya destinasi yang berubah nasib jadi “besi tua” pasca event.padahal tidak sedikit sumber daya yang di gunakan untuk membangunnya.

Kita sering sekali terjebak mindset RAMEAN yang memposisikan event pariwista sebagai semata-mata pemenuhan “hasrat terhibur”.ibarat menonton pasar malam : datang ke lokasi,melihat-lihat,menikmati,terhibur dan kemudian pulang dengan sedikit cerita puja-puji atas yang di alami tadi.atau bahkan sesederhana menyediakan menu makan malam bagi keluarga : berbelanja,memasak,menyajikan,menikmati dengan lahap di bumbui sedikit pujian atas cita rasa dan selesai.selanjutnya tinggal di pikirkan menu apa lagi yang nantinya di santap besok.sebegitu sederhana,simpel dan semata-mata bermotif konsumtif.

Mindset ini harus segera di akhiri karena tidak memberi nilai tambah ekonomi bahkan bisa menimbulkan beban ekonomi baru yang berimplikasi buruk bagi daerah.

Kita mestinya terbiasa dengan model menghitung secara detail dampak ekonomi yang mengiringi pelaksanaan sebuah event pariwisata,terlebih yang menguras sumber daya besar.keuntungannya,di samping sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan sumber daya publik,membiasakan tradisi menggunakan data akademik yang kredibel ketika menjawab keresahan publik,juga menjauhkan kesan apriori dan menumbuhkan kepercayaan dan dukungan publik yang kuat.

Belajar dari apa yang di lakukan gubernur DKI jakarta usai pegelaran event formula E.Anies bisa dengan lantang menjawab semua tudingan miring sejak menggagasnya,persiapan bahkan hingga usai pelaksanaannya.Dengan menggandeng Institute for Development of Economics and Finance (lNDEF),sebuah lembaga riset dan survey ekonomi dan keuangan yang kredibel,Anies mampu meyakinkan publik jakarta atau bahkan “musuh” politiknya bahwa gelaran event formula E memiliki dampak ekonomi yang luar biasa.

Mengutip detikfinance,sebagaimana di sampaikan pihak INDEF dalam diskusi publik dampak penyelenggaraan Jakarta E Prix 2022 di jakarta,dampak ekonomi yang di dapatkan jakarta sebesar Rp.2.638 triliun.Itu merupakan potensi yang bisa di dapatkan jakarta dalam satu tahun ini dari ajang tersebut.Total itu berdasarkan hasil dari dampak tambahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Rp.2.041 triliun dan dampak ekonomi langsung Rp.597 miliar.Artinya,untuk ekonomi jakarta akan menambah potensinya sebesar Rp.2.638 triliun terhadap ekonomi jakarta,setahun jangka pendek.Jadi 2.6 triliun itu sebenarnya penjumlahan dari ekonomi langsung dan nilai tambah yang di buat (create) dari kegiatan formula E.

Mungkin ini adalah model yang perlu di tiru oleh kita dalam menginisiasi setiap event pariwisata : menghitung setiap dampak dan potensi ekonomi yang menyertainya bahkan hingga mengukur kepuasan publik terhadap penyelenggaraannya.

Tidore,26/11/2022

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *